Penguatan Rupiah ke Level Terkuat dalam 1,5 Bulan Terakhir: Peluang dan Tantangan Ke Depan
Jakarta, Mediasinardunia.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan yang signifikan, bahkan mencapai level terkuatnya dalam 1,5 bulan terakhir. Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa rupiah ditutup menguat 0,34% menjadi Rp16.135/US$ pada Jumat (12/7/2024), yang merupakan level terkuat sejak 28 Mei 2024 dan mengalami apresiasi selama delapan hari berturut-turut.
Secara mingguan, rupiah juga mengalami penguatan sebesar 0,86%. Rekor penguatan selama delapan hari berturut-turut ini mencerminkan yang terakhir terjadi pada awal 2007, sekitar 17 tahun yang lalu, saat rupiah juga menguat selama periode 29 Januari hingga 7 Februari 2007.
Penguatan rupiah ini terjadi karena ekspektasi pelaku pasar mengenai penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) tahun ini. Menurut Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed. Rupiah saat ini masih berada pada level rendahnya selama pandemi, yaitu Rp16.625, namun adanya aliran masuk (inflow) di pasar keuangan Indonesia membantu mendorong nilai tukar rupiah kembali ke kisaran Rp16.000.
Para analis, seperti Presiden Direktur PT Panin Asset Management Ridwan Soetedja dan Ekonom Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto, memperkirakan bahwa penguatan rupiah akan terus berlanjut. Proyeksi pemotongan suku bunga The Fed di bulan September dapat memperkuat rupiah dan mendorong aliran dana asing ke pasar modal Indonesia. Data inflasi AS yang melandai juga memberikan optimisme terhadap pemangkasan suku bunga, yang dapat membawa angin segar bagi pasar keuangan domestik, termasuk rupiah, dengan tekanan terhadap mata uang Garuda yang semakin berkurang.