Skip to main content
x
Sanggar Tari Keromong 12 Sindang Margo Kembali Bangkit Setelah 30 Tahun Vakum, 20/01/2025 (Diky/Mediasinardunia.com)

Sanggar Tari Keromong 12 Sindang Margo Kembali Bangkit Setelah 30 Tahun Vakum

Rejang Lebong, Mediasinardunia.com - Setelah 30 tahun vakum, Sanggar Tari Keromong 12 Sindang Margo Desa Tanjung Sanai I, Padang Ulak Tanding kembali bersemangat. Dipimpin oleh Supiah, SPd.I, sanggar ini tetap berusaha menggali dan melestarikan seni tari tradisional suku lembak.

Salah satu tarian tradisional yang mereka garap adalah Tari Senjang, yang dipentaskan dalam Festival Durian II pada hari Senin, (20/1).

Tari Senjang adalah perpaduan antara gerakan tari, sastra lisan, dan musik tradisional. Lima gadis belia yang mengenakan busana adat lengkap turut memeriahkan pertunjukan ini, di antaranya Novita, Fika Lorensa Kina, Kina, Abel, dan Helva. Musikalitasnya didukung oleh biola (Puput), akordion (Rio), gong (aca), gendang (Usup), serta keromong 12 (Hasanah). Supiah, selaku koreografer, juga tampil sebagai pelantun lirik pantun.

"Saati ini, kami terus berlatih untuk beberapa tarian tradisional, seperti Tari Senjang dan Tari Layang-layang Mandi. Kami juga terus membuka kesempatan bagi remaja putra-putri untuk bergabung sebagai anggota, sehingga seni warisan leluhur ini dapat tetap berlangsung dan dicintai generasi muda," kata Supiah.

Diungkapkan bahwa sebagai sanggar yang baru saja bangkit kembali, Sanggar Keromong 12 Sindang Margo masih menghadapi berbagai keterbatasan terutama dalam hal sarana dan prasarana untuk menunjang kreativitas.

"Kami masih kesulitan memiliki perlengkapan seperti busana tari dan aksesoris pendukung, termasuk peralatan musik pengiring tari. Saat ini, kami masih menyewa perlengkapannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan dukungan dan bantuan dari pihak terkait agar Sanggar Keromong 12 dapat terus menjadi pelopor dalam pelestarian seni tradisi lembak," ujar Supiah.

Supiah juga menyatakan bahwa musik dan gerakan tari yang ditampilkan adalah warisan nenek moyang yang mereka inginjaga keasliannya. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan perkembangan dengan tetap mengakar pada tradisi, sehingga tercipta tarian kreasi baru yang mampu menggabungkan identitas lokal.