Skip to main content
x
Tempat wisata mata air Cikoromoy tidak berbeda jauh dengan Umbul Ponggok di Klaten. (Diky/Mediasinardunia.com)

Strategi Inovatif Pariwisata Ramah Lingkungan, Studi Kasus Umbul Ponggok di Yogyakarta

Jakarta, Mediasinardunia.com - Berbagai inovasi untuk wisata ramah lingkungan membuktikan bahwa pariwisata bisa seiring dengan peningkatan kesadaran orang akan pentingnya menjaga lingkungan. Saling sinergis antara pemerintah, stakeholder, dan individu akan membuat tujuan Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 41 persen pada 2030 bisa lebih mudah tercapai.

Dari sisi pariwisata, pengelola bisa mengedukasi pengunjung lewat inovasi sebuah destinasi yang lebih ramah lingkungan dengan mengembangkan energi terbarukan, efisiensi energi, menggunakan bahan bakar rendah karbon, dan teknologi batubara bersih. Seperti destinasi wisata Umbul Ponggok di Klaten Yogyakarta, yang telah mengusung wisata ramah lingkungan sejak 2006 dengan memanfaatkan potensi desanya.

"Pertama kali gagasan muncul, karena kawasan Umbul Ponggok memiliki potensi sumber mata air sehingga lewat penataan agar menjadi nilai ekonomis yang lebih tinggi," ungkap Sri Mulyono, Manajer Operasional Umbul Ponggok.

Diimbangi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelolanya, Umbul Ponggok yang sepenuhnya dikelola oleh masyarakat desa setempat ini mendapatkan mentoring dari akademisi Universitas Gajah Mada (UGM). Mulyono mengatakan, dalam masa awal penyusunan kawasan Umbul Ponggok menjadi tempat wisata, pihaknya juga mengadakan survei hingga ke Bali sebagai inspirasi dalam membuat wisata taman bermain air seperti yang ada sekarang.

Umbul Ponggok yang sempat viral dan kini masih mempertahankan konsep wisata taman bawah laut buatan dengan memanfaatkan potensi mata air desa juga bekerja sama dengan Jogja Selam. Dari kajian dan sistem yang dibangun sejak 2006, akhirnya pada 2009 Umbul Ponggok mendirikan badan usaha milik desa.

Rls: Liputan 6