Skip to main content
x
Bengkulu Masuk Peringkat Keempat Paparan Terorisme, 09/07/2025 (Diky/Mediasinardunia.com)

Bengkulu Masuk Peringkat Keempat Paparan Terorisme: FKPT Gelar Rembuk Merah Putih untuk Ciptakan Pemuda Cerdas dan Cinta Tanah Air

Bengkulu, Mediasinardunia.com - Ancaman terorisme dan radikalisme tidak mengenal batas wilayah. Provinsi Bengkulu, yang selama ini dikenal sebagai daerah religius dan damai, ternyata menempati peringkat keempat secara nasional dalam paparan paham terorisme pada tahun 2024. 

Fakta ini mengejutkan dan menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bergerak cepat. Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu menggelar kegiatan bertajuk Rembuk Merah Putih, yang dilaksanakan pada Rabu (9/7) di Aula Prof. Djaman Nur, Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFAS) Bengkulu. Tema acara ini adalah "Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air."

Acara ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, dosen, insan media, tokoh pemuda, hingga komunitas sosial, semua disatukan oleh satu tujuan: mencegah berkembangnya paham radikal yang berujung pada tindakan terorisme. 

“Ini bukan hanya acara seremonial. Ini adalah bagian dari ikhtiar besar menyelamatkan generasi muda dari paham yang dapat merusak masa depan bangsa,” ujar Wibowo Susilo, Sekretaris FKPT Provinsi Bengkulu, dalam sambutannya. 

Wibowo mengungkapkan bahwa berdasarkan data nasional tahun 2024, Bengkulu menempati peringkat keempat tertinggi sebagai provinsi dengan warganya terpapar paham radikal dan terorisme. Capaian ini jelas bukan prestasi, melainkan peringatan keras. 

“Karena itulah, forum seperti ini kami harapkan menjadi ruang edukasi yang strategis. Diskusi-diskusi kebangsaan harus digalakkan agar tidak ada ruang kosong yang diisi oleh narasi kebencian dan intoleransi,” katanya.

Rembuk Merah Putih ini juga merupakan bagian dari program sinergis antara FKPT dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di kampus, tetapi juga menyasar sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan media massa. 

Maira Himadhani, Sub Koordinator Partisipasi Masyarakat BNPT, menekankan pentingnya pendekatan edukatif dalam melawan radikalisme. Menurutnya, perang terhadap terorisme tidak bisa hanya dilakukan dengan pendekatan represif, tetapi harus dimulai dari ruang-ruang dialog. 

“Diskusi, pendidikan, sosialisasi, hingga gerakan komunitas sangat efektif untuk membentengi masyarakat dari pengaruh buruk paham radikal,” ungkap Maira.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat empat kelompok radikal aktif di Provinsi Bengkulu yang terus dipantau oleh BNPT. Oleh karena itu, masyarakat perlu diajak untuk tetap waspada tanpa menciptakan ketakutan yang berlebihan. 

“Kita harus tenang tapi tetap waspada. Melibatkan masyarakat dalam gerakan pencegahan jauh lebih berdampak daripada sekadar menunggu penindakan hukum,” tegasnya.

Dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi, menjadi sorotan penting dalam forum ini. Wakil Rektor I UINFAS Bengkulu, Prof. Khairudin Wahid, menyatakan bahwa kampus harus menjadi garda terdepan dalam menangkal paham radikal, bukan justru menjadi tempat berkembangnya. 

“Komunitas mahasiswa harus dibimbing untuk berpikir kritis, terbuka, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan. Ini penting agar mereka tidak mudah disusupi narasi radikal yang menyesatkan,” ucap Khairudin.

Ia juga mengapresiasi kegiatan FKPT dan BNPT yang langsung menyentuh akar persoalan, yaitu pembinaan pemuda dan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. 

“Forum ini bukan hanya memberi informasi, tetapi juga menumbuhkan semangat cinta tanah air. Itulah yang paling penting,” katanya.