Dari Keringat Petani hingga Menembus Pasar Italia, Kisah Panjang Kopi Bengkulu Go Internasional
KEPAHIANG, Mediasinardunia.com – Secangkir kopi yang tersaji di hadapan penikmat bukan sekadar minuman. Di balik aroma dan cita rasanya, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari tangan para petani di lereng-lereng perkebunan Bengkulu.
Sejak pagi, para petani kopi telah berada di kebun. Di bawah teriknya matahari, tubuh mereka berkeringat saat memetik buah kopi dari satu pohon ke pohon lainnya. Buah kopi dipetik satu per satu dengan penuh ketelitian hingga pekerjaan berakhir pada sore hari.
Dari tangan petani itulah bahan baku kopi kemudian dikumpulkan dan dipasarkan. Namun, perjalanan untuk menghasilkan kopi berkualitas tidak berhenti pada proses panen.
Seiring meningkatnya tuntutan pasar, petani mulai mempelajari cara pengolahan kopi yang lebih baik. Para pelaku usaha dan pembeli kopi juga dituntut memahami kualitas biji, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan.
Biji kopi dengan mutu yang baik kemudian menjadi bagian penting dalam menciptakan cita rasa. Di tingkat hilir, pelaku UMKM mengolah dan memasarkannya hingga menjadi produk yang dinikmati masyarakat.
Inilah cerita panjang di balik nikmatnya secangkir kopi Bengkulu.
Sejarah yang Tak Terlupakan
Perjalanan panjang tersebut mencapai salah satu momentum penting pada Senin, 7 September 2026. Kabupaten Kepahiang mencatat sejarah ketika sebanyak 19,2 ton kopi Robusta senilai sekitar Rp1,2 miliar diberangkatkan menuju Italia.
Kopi yang selama ini tumbuh di tanah Bengkulu akhirnya menyeberangi batas negara dan memasuki pasar internasional.
Bagi Bengkulu, pengiriman tersebut bukan sekadar angka ekspor. Momentum itu menjadi penanda bahwa kopi daerah mulai bergerak dari sekadar komoditas perkebunan menuju produk yang memiliki nilai tambah dan peluang daya saing di pasar global.
Namun, keberhasilan mengirim kopi ke Italia juga menghadirkan tantangan baru.
Menembus pasar internasional bukan hanya tentang mendapatkan pembeli. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas dan memastikan ketersediaan pasokan sehingga kopi Bengkulu mampu memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan.
Dari Tiga Kabupaten Menuju Satu Identitas
Penguatan ekosistem kopi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tersebut.
Pada momentum pelepasan ekspor di Kabupaten Kepahiang, Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dan Pemerintah Kabupaten Lebong menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pengembangan Kopi Bengkulu Go Internasional.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, standardisasi mutu hingga membangun branding bersama.
Bupati Kepahiang Zurdi Nata mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan membuat kopi dari tiga wilayah tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kerja sama ini fokus pada penguatan dari hulu ke hilir dengan brand utama Kopi Bengkulu. Kita akan melakukan pemasaran bersama untuk membidik pangsa pasar global agar harga di tingkat petani meningkat,” ujarnya.
Di balik langkah tersebut terdapat persoalan klasik komoditas pertanian. Kualitas produk harus bertemu dengan kesinambungan produksi.
Petani membutuhkan kepastian pasar. Pasar membutuhkan pasokan. Pelaku usaha membutuhkan bahan baku dengan kualitas yang konsisten. Semua pihak pun membutuhkan standar yang sama.
Karena itu, perubahan pola pikir petani menjadi bagian penting dari perjalanan kopi Bengkulu menuju pasar global.
Petani tidak cukup hanya meningkatkan jumlah produksi. Mereka juga perlu memahami bahwa kualitas kopi ditentukan sejak buah berada di pohon, proses panen, pengolahan, hingga menjadi produk siap dipasarkan.
BI dan Jalan Menuju Pasar yang Lebih Lebar
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat melihat ekspor 19,2 ton kopi Robusta ke Italia sebagai bukti bahwa kopi Bengkulu memiliki ruang di pasar dunia.
Bagi petani, ekspor tersebut dapat menjadi pintu untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi. Namun, jalan menuju pasar global membutuhkan kerja bersama dan konsistensi.
Mulai dari kebun, petani menjadi aktor pertama yang menentukan kualitas. Selanjutnya, pengumpul, pelaku usaha, UMKM, pemerintah, perbankan dan berbagai pihak terkait memiliki peran dalam membangun rantai nilai kopi.
Sebab, secangkir kopi yang dinikmati konsumen di dalam maupun luar negeri sesungguhnya membawa cerita panjang.
Ada keringat petani yang memetik buah kopi di bawah terik matahari. Ada proses pemilihan dan pengolahan biji. Ada perjuangan pelaku usaha menjaga mutu dan cita rasa. Hingga akhirnya, kopi Bengkulu mampu melangkah keluar dari daerah asalnya dan bertemu dengan penikmat di belahan dunia lain.
Ekspor ke Italia pada 7 September 2026 menjadi salah satu bab penting dari perjalanan tersebut.
Dari kebun-kebun Bengkulu, kopi membawa bukan hanya aroma dan cita rasa, tetapi juga harapan agar kerja keras petani semakin dihargai dan nama Kopi Bengkulu semakin dikenal di pasar internasional.