Skip to main content
x
Produktivitas Padi Air Manjuto Tinggi, PPL Dorong Petani Kurangi Ketergantungan Kimia, 29/09/2025 (Diky/Mediasinardunia.com)

Produktivitas Padi Air Manjuto Tinggi, PPL Dorong Petani Kurangi Ketergantungan Kimia

Mukomuko, Mediasinardunia.com - Kecamatan Air Manjuto dikenal sebagai salah satu sentra penghasil beras utama di Kabupaten Mukomuko. Dari tujuh kecamatan, Air Manjuto menyumbang produksi gabah signifikan dengan total luas sawah sekitar 301 hektare (Ha) yang tersebar di empat desa: Tirta Mulya (100 Ha), Tirta Makmur (151 Ha), Agung Jaya (30 Ha), dan Kota Praja (20 Ha).

Dengan rata-rata produktivitas 7 ton per hektare dan panen dua kali setahun, kecamatan ini mampu menghasilkan sekitar 4.200 ton gabah setiap tahun, menjadikannya strategis dalam mendukung ketersediaan pangan di Mukomuko.

Ketergantungan pada Kimia dan Edukasi PPL

Meskipun demikian, sebagian besar petani di wilayah ini masih mengandalkan metode budidaya padi berbasis kimia. Hal itu diungkapkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Air Manjuto, Dwi Maryani, SP. Menurutnya, hampir semua petani menggunakan pupuk kimia, pestisida, fungisida, maupun herbisida dalam proses penanaman hingga perawatan tanaman.

“Petani sawah di Air Manjuto pada umumnya menggunakan kimia. Mulai pupuk hingga pestisida,” ujar Dwi, Senin (29/09/2025).

Dwi menjelaskan, alasan utama petani tertarik menggunakan bahan kimia adalah karena hasilnya cepat terlihat. Misalnya, penyemprotan pestisida saat serangan hama langsung efektif, dan pemupukan kimia mempercepat pertumbuhan tanaman.

“Kalau menggunakan kimia, hasil lebih cepat terlihat. Itu salah satu penyebab petani suka dengan kimia,” jelasnya.

Mendorong Pertanian Berkelanjutan

Meski begitu, Dwi tidak menutup mata terhadap dampak jangka panjang penggunaan bahan kimia. Sebagai PPL, ia bersama tim rutin memberikan penjelasan kepada petani mengenai sisi positif dan negatif penggunaan input kimia, tidak hanya pada tanaman padi, tetapi juga pada kondisi tanah dan ekosistem sekitar.

“Dalam banyak kesempatan, kami menjelaskan dampak penggunaan kimia secara terus-menerus saat tanam padi. Petani perlu tahu agar bisa mempertimbangkan penggunaannya ke depan,” tambah Dwi.

Penyuluhan ini penting agar petani tidak hanya bergantung pada bahan kimia, melainkan juga mau mencoba alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu upaya yang terus didorong adalah pemanfaatan bahan organik di sekitar, seperti jerami padi yang bisa diolah menjadi pupuk organik untuk kesuburan tanah.

“Kami juga menyampaikan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar yang bisa dijadikan pupuk organik. Salah satunya jerami,” terang Dwi.

Meski belum banyak petani yang beralih sepenuhnya ke sistem organik, Dwi berharap melalui penyuluhan berkelanjutan, pemahaman mereka tentang pertanian ramah lingkungan semakin meningkat. Dengan begitu, ke depan petani bisa lebih bijak dalam memadukan penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik agar produksi tetap tinggi sekaligus menjaga kesehatan lahan pertanian.