Skip to main content
x
Kualitas dan Keamanan Proyek Cathlab RSUD Mukomuko Dipertanyakan: APH Diminta Turun Tangan (Dayat/Mediasinardunia.com)

Kualitas dan Keamanan Proyek Cathlab RSUD Mukomuko Dipertanyakan: APH Diminta Turun Tangan

Mukomuko, Mediasinardunia.com - Proyek pembangunan ruang Cathlab di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mukomuko senilai Rp 2,272 miliar, yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, menuai sorotan. Proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ini diduga bermasalah karena penggunaan material yang tidak sesuai standar dan kondisi lingkungan kerja yang tidak aman.

Proyek dengan nomor kontrak 151/PPK/KONST. CATHLAB RSUD 2025 ini dikerjakan oleh CV. Olan Putra sebagai kontraktor pelaksana dan CV Tri Putera sebagai konsultan pengawas. Dengan waktu pelaksanaan seratus lima puluh hari kalender, dimulai sejak 22 Juli hingga 18 Desember 2025, proyek ini diharapkan dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Mukomuko.

Namun, di lapangan, ditemukan sejumlah masalah yang berpotensi menghambat kelancaran dan kualitas proyek. Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa proyek ini menggunakan pasir yang diduga bercampur tanah dan debu. Selain itu, material konstruksi juga berserakan di lokasi proyek tanpa adanya pembatas atau pengaman yang memadai.

"Ini sangat fatal, karena area ini merupakan akses bagi pasien dan keluarga pasien. Material berserakan di mana-mana, dan pihak terkait harus segera menindaklanjuti masalah ini," ujarnya.

Saat awak media melakukan investigasi ke lokasi proyek, ditemukan material yang berserakan dan para pekerja yang tidak dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap. Selain itu, tidak terlihat adanya konsultan pengawas di lokasi, sehingga diduga proyek ini luput dari pengawasan yang seharusnya. Kejanggalan lain adalah hanya ada satu mesin molen untuk dua paket proyek miliaran, sehingga dikhawatirkan banyak menggunakan adukan manual yang dapat memengaruhi mutu beton. Terlihat pula banyak semen berserakan di lokasi kerja akibat adukan manual.

"Terkait APD, sudah berapa kali kami sampaikan, tapi tidak dipasang. Padahal, APD sudah kami siapkan," kata Eko.

Mengenai pasir yang diduga berasal dari laut, Eko menjelaskan bahwa pihaknya hanya memesan satu mobil pasir, namun yang datang tiga mobil. Satu mobil berisi pasir yang bagus, sementara dua mobil lainnya berisi pasir yang bercampur batu apung.

Kasus ini menjadi perhatian serius, karena menyangkut kualitas bangunan dan keselamatan pasien serta keluarga pasien yang mengakses RSUD Mukomuko. Pihak terkait atau Aparat Penegak Hukum (APH) diharapkan segera mengambil tindakan tegas untuk mengidentifikasi dan memastikan proyek ini dikerjakan sesuai dengan standar yang berlaku.