Skip to main content
x
Mahasiswa Universitas Bengkulu (UNIB) berhasil melakukan inovasi energi listrik terbarukan dengan memanfaatkan potensi sampah organik untuk diubah menjadi bahan bakar biogas, kata Dani, Minggu (7/5/23). Foto(diky/mediasinardunia.com)

Mahasiswa UNIB Ubah Limbah Jadi Energi Listrik

Bengkulu - Mediasinardunia.com - Mahasiswa Universitas Bengkulu (UNIB) berhasil melakukan inovasi energi listrik terbarukan dengan memanfaatkan potensi sampah organik untuk diubah menjadi bahan bakar biogas.

Perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Rumpun Hijau Kampus UNIB, Dani Fazli mengungkapkan, inovasi ini merupakan salah satu program sosial yang dilakukan oleh komunitasnya.

Program sosial ini sempat masuk nominasi lomba nasional. Sehingga dirinya membentuk tim sebanyak 7 orang dari kalangan mahasiswa untuk mengembangkan program dengan tujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah organik di daerah ini.

"Limbah organik ini tersedia cukup banyak dan tidak dimanfaatkan maksimal. Sehingga kami berinisiatif mengubahnya menjadi energi baru terbarukan," kata Dani, Minggu (7/5/23).

Untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah organik, Dani bersama timnya merancang alat konversi biogas menjadi listrik dengan nama Biodigester. Alat inilah yang kemudian mengubah uap limbah menjadi energi listrik.

Lanjut Dani, Komunitasnya memilih Desa Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu sebagai pilot project lokasi pembuatan Biodigester. Sebab daerah ini memiliki potensi limbah organik sisa sayur-sayuran yang sangat banyak. 

"Karena potensi limbah organik berupa sayuran di desa ini cukup banyak kami memutuskan membuat Biodigester di sana," ujar Dani.

Biodigester yang dibuat di desa tersebut tidak hanya menghasilkan biogas untuk rumah tangga, namun juga menghasilkan energi listrik melalui konversi energi gas menjadi listrik pada generator listrik. Bahkan listrik yang dihasilkan dari proses konversi ini mampu mencapai 2.500 watt. 

Selain itu, sisa atau ampas dari proses Biodigester tersebut juga akan menghasilkan lumpur probiotik yang dapat digunakan untuk ternak lele dan dijadikan pupuk kompos untuk petani lokal.

"Jadi banyak produk turunan yang dihasilkan oleh Biodigester ini, mulai dari biogas, listrik, media budidaya ikan lele, dan pupuk organik," tutur Dani.

Meskipun mampu menghasilkan banyak produk turunan, namun nyatanya program sosial ini tidak mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Bahkan Dani bersama timnya telah melakukan konsolidasi ke berbagai pihak termasuk elemen pemerintahan, tapi sulit untuk ditemui. 

Dani berharap dukungan baik dari segi moral dan material bisa datang dari banyak stakeholder di Kabupaten Rejang Lebong. Hal ini sangat penting karena ini merupakan pertama kalinya program sosial ini dibuat dan akan menjadi momentum yang sangat luar biasa bagi daerah ini untuk memulai mengubah desa-desa menjadi desa mandiri energi. 

"Ini menjadi suatu hal yang membanggakan, kami berharap ini bisa mendapatkan dukungan agar bisa terus dikembangkan dan diimplementasikan di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu," tutur Dani.

Sementara itu Tim Teknis program sosial ini, Dio menyatakan, bahwa proses pembuatan Biodigester yang pertama ini memakan waktu yang lumayan panjang dan minimnya dukungan dari stakeholder terkait, terutama pihak pemerintahan, dikarenakan keterbatasan modal atau pendanaan. 

Oleh sebab itu, dirinya berharap peran dan dukungan dari pemerintah agar program ini bisa berjalan maksimal di Bengkulu.

"Tanpa peran dan dukungan dari pemerintah mustahil ini bisa berhasil dan berjalan maksimal, maka kami sangat berharap itu bisa terwujud," tutupnya.(**)