Skip to main content
x
Agam Pembangunan Batalyon TNI Angkatan Darat di lahan eks HGU PT. Inang Sari yang sempat menghadapi perbedaan pandangan antara pihak militer dan masyarakat adat,

MENDRI. S. SH. IMAM MARAJO JADI PENENGAH ANTARA TNI AD DAN NINIAK MAMAK ULAYAT EKS HGU PT. INANG SARI

Provinsi Sumbar,Mediasinardunia.com - Agam Pembangunan Batalyon TNI Angkatan Darat di lahan eks HGU PT. Inang Sari yang sempat menghadapi perbedaan pandangan antara pihak militer dan masyarakat adat, kini menemukan titik keseimbangan berkat peran tokoh adat Mendri. S. SH. Imam Marajo.
Dengan ketenangan dan kebijaksanaan seorang pemangku adat, Mendri Imam Marajo tampil sebagai penengah yang mampu menjembatani komunikasi antara TNI AD, khususnya Kodim 0304/Agam, dengan Niniak Mamak penguasa ulayat dan masyarakat sekitar lokasi. Pendekatan adat yang beliau lakukan berhasil menumbuhkan rasa saling percaya di antara semua pihak yang terlibat.
Dalam musyawarah yang berlangsung penuh rasa kekeluargaan, Mendri Imam Marajo.

mengedepankan nilai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” sebagai landasan utama dalam mencari solusi. Beliau menjelaskan bahwa tanah ulayat bukan semata aset fisik, melainkan warisan budaya yang harus dijaga, namun pada saat yang sama dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama apabila didasari oleh musyawarah mufakat dan niat yang baik.

Melalui dialog terbuka dan komunikasi yang intens, akhirnya para Niniak Mamak dan masyarakat memahami bahwa pembangunan Batalyon bukanlah bentuk perampasan, melainkan bagian dari upaya memperkuat keamanan daerah serta membuka peluang pembangunan ekonomi baru di wilayah Agam.

Keberhasilan mediasi ini mendapat apresiasi langsung dari Letkol Inf. S. Dwi Santoso, S.IP, Komandan Kodim 0304/Agam, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada Mendri Imam Marajo.
> “Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Mendri. S. SH. Imam Marajo yang telah berperan besar sebagai jembatan penghubung antara TNI AD dan masyarakat adat. Suasana kini menjadi kondusif dan penuh semangat kebersamaan,” ujar Dandim kepada media.

Bengkulu

Dandim menegaskan bahwa pihak TNI AD akan tetap menghormati hak-hak ulayat serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Semua proses pembangunan akan dilakukan secara transparan dan melibatkan tokoh adat sebagai mitra strategis.

Sementara itu, Mendri Imam Marajo menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hasil pribadi, melainkan buah dari semangat kebersamaan antara aparat negara dan masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Minangkabau.
> “Adat dan negara harus berjalan beriringan. Pembangunan harus membawa manfaat untuk rakyat tanpa meniadakan akar budaya kita. Jika niatnya baik, insya Allah semua dimudahkan,” ucapnya.

Masyarakat lingkungan dan (Fkmplh) forum komunikasi masyarakat pencinta lingkungan hidup provinsi Sumbar adinda Frengki M, pun menyambut baik hasil kesepakatan ini dan mengucapkan apresiasi yang setinggi - tingginya kepada TNI. Mereka berharap pembangunan Batalyon kelak dapat meningkatkan rasa aman, membuka lapangan kerja, dan menjadi contoh sinergi antara pemerintah, TNI, dan pemangku adat.

Dengan tercapainya kesepahaman ini, Agam menunjukkan bahwa kekuatan sejati pembangunan bukan hanya pada beton dan senjata, tetapi pada persatuan antara adat dan negara — nilai yang terus dijaga oleh tokoh-tokoh kita Didaerah seperti Mendri. S. SH. Imam Marajo sehingga Bisa bisaemberikan pembelajaran Buat Generasi Penerus Bangsa kita di seluruh wilayah Negara Kesatuan Repoblik Indonesia.

(Fr/ TM )