Skip to main content
x
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu menggelar talk show tentang akses pinjaman modal bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rangkaian Bencoolen Fest 2026 di Bencoolen Mall, Minggu. 11/10/2026. Kota Bengkulu.(Uj/mediasinardunia.com)

Bencoolen Fest 2026 Angkat Akses Permodalan UMKM, BI Dorong Pelaku Usaha Berani ke Perbankan

BENGKULU, Mediasinardunia.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu menggelar talk show tentang akses pinjaman modal bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rangkaian Bencoolen Fest 2026 di Bencoolen Mall, Minggu. 11/10/2026. Kota Bengkulu.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia dan Bank Sinar Mas, dengan dipandu Sofia Harianja. Diskusi ini menjadi ruang edukasi bagi pelaku UMKM untuk memahami peluang pembiayaan perbankan, persyaratan pinjaman, serta pentingnya pengelolaan usaha agar lebih tertata dan berkembang.

Perwakilan Bank Indonesia, Tulus, yang telah berkecimpung dalam pengembangan UMKM sejak 2008, menyampaikan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan perekonomian Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki hampir 65 juta UMKM yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Ketahanan sektor ini juga terlihat saat krisis moneter 1998, ketika banyak pelaku usaha kecil tetap berupaya mempertahankan usahanya di tengah tekanan ekonomi.

Di Provinsi Bengkulu, jumlah UMKM disebut mencapai sekitar 17 ribu unit usaha yang menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Pelaku usaha tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, lulusan baru, hingga masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Banyak masyarakat yang menjadikan UMKM sebagai sumber penghasilan utama maupun usaha sampingan untuk bertahan hidup,” ujar Tulus.

Ia menjelaskan, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia (SDM), pemasaran, bahan baku, tempat usaha, peralatan produksi, hingga perizinan. Penguatan modal menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengatasi berbagai kendala tersebut.

Tulus juga menekankan pentingnya pelaku UMKM menata administrasi, mencatat keuangan, melengkapi perizinan, serta meningkatkan kualitas produk, termasuk memenuhi standar halal. Dengan pengelolaan yang baik, usaha akan lebih mudah dinilai oleh lembaga keuangan ketika mengajukan pembiayaan.

Ia mendorong pelaku usaha memanfaatkan pembiayaan melalui jalur resmi, baik perbankan maupun lembaga keuangan nonbank, bukan terjebak pinjaman online ilegal yang berisiko merugikan.

Bank Indonesia turut mendorong penguatan kapasitas UMKM melalui program Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), yang membantu pelaku usaha menyusun pencatatan keuangan secara lebih terstruktur. Edukasi tersebut diharapkan meningkatkan kepercayaan diri pelaku UMKM untuk mengakses pembiayaan perbankan.

Dalam pemaparannya, Tulus menyebut pembiayaan kredit kepada UMKM di Bengkulu telah mencapai Rp17,7 triliun. Angka tersebut disampaikan dalam sesi diskusi sebagai gambaran dukungan pembiayaan terhadap sektor usaha.

Sementara itu, Ragil dari Bank Sinar Mas menjelaskan bahwa pembiayaan UMKM di Bengkulu antara lain menyasar sektor perkebunan dan pertambangan. Untuk kategori Kredit Usaha Rakyat (KUR) kecil, plafon pinjaman yang dipaparkan berkisar Rp101 juta hingga Rp500 juta.

Ia juga menyampaikan bahwa pembinaan terhadap pelaku perkebunan kelapa sawit terus dilakukan. Menurut pemaparannya, penyaluran pembiayaan yang dibahas mencapai hampir Rp15 miliar per bulan.

Arya, perwakilan Bank Sinar Mas lainnya, menambahkan bahwa calon debitur untuk skema kredit yang dipaparkan perlu memiliki usaha yang telah berjalan minimal dua tahun. Persyaratan tersebut menjadi salah satu pertimbangan perbankan dalam menilai kelayakan pengajuan pembiayaan.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mempertanyakan peluang memperoleh pinjaman bagi pelaku UMKM pemula, termasuk mahasiswa yang ingin membangun usaha.

Deswita, mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib), turut mengajukan pertanyaan mengenai cara memulai usaha dan memperoleh akses permodalan.

Menanggapi hal itu, Tulus menekankan pentingnya tekad, keseriusan, serta perencanaan yang matang dalam membangun usaha. Pelaku UMKM pemula perlu memiliki gagasan usaha yang jelas dan tidak sekadar mencoba tanpa persiapan.

Pemanfaatan aplikasi digital juga menjadi salah satu solusi untuk mempermudah pencatatan keuangan, pemasaran, dan pengembangan usaha.

Melalui talk show Bencoolen Fest 2026, Bank Indonesia berharap pelaku UMKM semakin memahami akses pembiayaan formal dan mampu mempersiapkan usahanya agar lebih profesional, berdaya saing, serta memiliki peluang berkembang secara berkelanjutan.