Skip to main content
x
Harga beras kembali melambung pada paruh kedua tahun 2024 setelah sebelumnya sempat menurun. (Diky/mediasinardunia.com)

Kenaikan Harga Beras di Paruh Kedua Tahun 2024: Penyebab dan Solusi dari Perum Bulog

Lampung, Mediasinardunia.com - Harga beras kembali melambung pada paruh kedua tahun 2024 setelah sebelumnya sempat menurun. Perum Bulog menjelaskan bahwa tingginya harga beras saat ini disebabkan oleh kenaikan harga gabah kering panen (GKP) yang terjadi di pabrik beras Bulog di beberapa daerah. Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, mengatakan bahwa harga GKP yang tinggi dipicu oleh persaingan antara para penggiling padi untuk mendapatkan bahan baku, sehingga penawaran harga dari petani pun menjadi lebih mahal karena permintaan lebih besar dibandingkan ketersediaan.

Febby juga menjelaskan bahwa meskipun Bulog memiliki program stabilisasi beras SPHP, namun dampaknya masih belum signifikan karena market share dari cadangan beras pemerintah (CBP) masih di bawah 10%. Selain itu, Bulog juga mengguyur beras komersial ke pasaran dengan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp14.900 per kilogram untuk memastikan harga beras tetap terjangkau.

Menurut Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga GKP di tingkat petani secara nasional saat ini berada di level Rp6.340 per kilogram, di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.000 per kilogram. Harga GKP tertinggi tercatat di Sumatra Barat mencapai Rp7.300 per kilogram, sedangkan harga terendah ada di Kalimantan Tengah sebesar Rp5.500 per kilogram.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga beras pada pekan keempat Juli 2024 mencapai Rp15.134 per kilogram, naik 0,78% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebanyak 33,33% wilayah mengalami kenaikan harga beras pada pekan tersebut. Realisasi penyaluran beras SPHP juga mengalami peningkatan hingga Juli 2024, di mana distribusi terbanyak dilakukan melalui pengecer, distributor, Satgas Pangan, dan pemerintah daerah.