Waspadai Peredaran Uang Palsu Jelang Lebaran: Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya
Bengkulu, Mediasinardunia.com - Jelang Lebaran Idul Fitri yang semakin dekat, transaksi barang-barang konsumen lazimnya akan meningkat. Ini menjadi kesempatan bagi sindikat pemalsu mata uang untuk mengedarkan uang palsu.
Oleh karena itu, warga Kota Bengkulu diminta untuk lebih berhati-hati karena terjadi peningkatan aktivitas kriminalitas, termasuk peredaran uang palsu.
Asisten I Eko Agusrianto, Pj Walikota Bengkulu, mengatakan bahwa peredaran uang palsu dapat merugikan dan mengganggu stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi selama bulan Ramadan.
"Di bulan Ramadan, transaksi keuangan biasanya meningkat, ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan uang palsu, sehingga harus diwaspadai," ujarnya.
Eko menekankan bahwa menjelang Lebaran, akan banyak jasa penukaran uang, sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan.
"Masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap peredaran uang palsu saat melakukan transaksi atau penukaran uang pecahan kecil. Disarankan untuk menukarkan uang di tempat resmi, seperti di unit atau cabang perbankan dan kas keliling Bank Indonesia," ujarnya.
Selain itu, Eko juga menyarankan agar saat menerima uang, hindari terburu-buru dalam menerima atau memberikan kembalian. "Periksa uang dengan seksama sebelum melakukan transaksi," pesannya.
Secara keseluruhan, masyarakat perlu waspada dan berhati-hati. Lakukan pengecekan dan kenali keaslian setiap jenis mata uang, terutama uang kertas. (MCKB)
Berikut adalah ciri-ciri uang palsu yang perlu diketahui agar masyarakat bisa menghindarinya:
Ciri-Ciri Uang Palsu
1. Tampilan
Salah satu ciri utama uang palsu adalah kualitas cetakan yang buruk. Uang palsu biasanya memiliki detail cetakan yang kurang tajam, warna yang pudar, dan tekstur kertas yang berbeda dari uang asli. Bagian-bagian seperti gambar wajah, angka, dan tulisan terlihat kabur atau tidak jelas.
2. Kertas yang Berbeda
Uang kertas Rupiah terbuat dari kertas khusus berbahan serat kapas yang sulit dipalsukan. Uang palsu sering kali menggunakan bahan yang lebih murah dan kurang berkualitas. Kertas uang palsu mungkin terasa lebih tipis atau tebal dari kertas asli.
3. Benang Pengaman
Pecahan uang Rupiah Rp100.000, Rp50.000, dan Rp20.000 memiliki benang pengaman yang terbenam. Benang ini berubah warna bila dilihat dari sudut pandang tertentu. Namun, uang palsu tidak memiliki ciri ini.
4. Watermark atau Tanda Air
Uang asli memiliki watermark berupa logo Bank Indonesia. Watermark tersebut bisa dilihat bila diterawang ke arah cahaya dengan ornamen tertentu di dalamnya. Uang palsu mungkin memiliki watermark, tapi ornamennya tidak ada.
5. Tinta Berubah Warna
Uang asli memiliki logo Bank Indonesia yang bisa berubah warna bila dilihat dari sudut pandang berbeda. Uang palsu tidak memiliki logo yang berubah warna seperti itu.
6. Ukuran dan Berat
Uang asli memiliki ukuran dan berat standar yang ditentukan oleh Bank Indonesia. Uang palsu mungkin memiliki ukuran atau berat yang tidak sesuai.
Cara Agar Terhindar dari Uang Palsu
Setelah mengetahui ciri-ciri uang palsu, masyarakat juga perlu mengetahui cara agar terhindar dari menerima uang palsu. Salah satu cara yang efektif adalah dengan meneliti uang secara 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Ini adalah langkah yang bisa diambil untuk mencegah menerima uang palsu.
(Rilis MC/KB)