Skip to main content
x
Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Ismarini, menyoroti perlunya upaya serius untuk mengatasi krisis pangan di Indonesia. Dia menekankan bahwa Indonesia masih rentan terhadap ancaman krisis iklim dan penurunan produksi beras. (Diky/mediasinardunia.com)

Krisis Pangan di Indonesia: Peran Bioteknologi dan Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan

Jakarta, Mediasinardunia.com - Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Ismarini, menyoroti perlunya upaya serius untuk mengatasi krisis pangan di Indonesia. Dia menekankan bahwa Indonesia masih rentan terhadap ancaman krisis iklim dan penurunan produksi beras.

Menurut Ismarini, indeks ketahanan pangan Indonesia saat ini masih rendah, berada di posisi 63 dari 113 negara pada tahun 2023 dan berpotensi untuk turun pada tahun 2024. Dia menyatakan kekecewaannya karena Indonesia, meskipun dikenal sebagai negara agraris dengan jumlah petani yang besar, masih harus mengimpor beras dan petani masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Ismarini menyarankan agar Indonesia mengikuti jejak negara seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand dalam menerapkan bioteknologi untuk menciptakan ketahanan pangan. Dia menyatakan bahwa Kemenko Perekonomian telah memperbarui peta jalan untuk pangan produk rekayasa genetik dan mendukung penuh penerapan teknologi bioteknologi dalam pertanian.

Dia menekankan perlunya memperbaiki sektor pertanian Indonesia dengan menerapkan bioteknologi untuk menghindari jebakan pendapatan menengah. Ismarini juga menyoroti lonjakan impor beras Indonesia yang mengindikasikan kerapuhan sistem ketahanan pangan negara tersebut.

Dalam pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri, Perum Bulog mengungkapkan bahwa sepanjang semester pertama 2024, sudah diimpor 2,5 juta ton beras dan rencananya akan mengimpor 3,40 juta ton beras pada periode Mei hingga Desember. Direktur lembaga kajian Next Policy, Yusuf Wibisono, mengingatkan bahwa jika rencana impor beras tersebut terlaksana, Indonesia akan menjadi importir beras terbesar di dunia dengan jumlah impor mencapai 6 juta ton, melebihi rekor dalam 25 tahun terakhir.